Selasa, 29 Juli 2014

Cinta Yang Terlambat | halaman 5

<=baca dari awal
pagi ini udaranya sangat dingin. mungkin itu adalah embun. karena hal itu aku terbangun. masih pukul 04.37, sangat pagi. pasti belum ada orang yang melakukan aktivitas dipagi buta begini. aku mengucek mataku dan mencoba mengumpulkan seluruh nyawaku yang sebagian masih berautis ria dialam mimpi. aku baru menyadari bahwa ada sesuatu yang tidur disampingku. ah!! itu adalah pemuda yang kutemui kemarin soreh yg tiba tiba pingsan. aku memincingkan mataku kearahnya. wajahnya disembunyikan menghadap pinggangku. aku terkejut setelah mengetahuinya. tapi tak terlalu terkejut karena ini masih terlalu pagi.



memang pagi ini sangat dingin. terbukti pemuda disampingku menggigil kecil. entah mengapa aku merasa kasihan padanya karena menggigil kedinginan. dengan perlahannya, aku menyelimuti sebagian tubuhnya dengan selimut yang sudah berpindah ke kaki kami. ia tetap menggigil. karena kehabisan cara aku menariknya kedalam pelukanku. seperti semalam, ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. tak berapa lama, aku kembali terbuai ke alam mimpi.

###



aku menggeliat kecil. nyawaku langsung terkumpul setelah terkena terpaan sinar matahari yang menyinari tepat di mataku. walaupun cahayanya tidak terlalu terang tapi itu mampu membuatku terbangun. alasan lainnya adalah aku ingin buang air kecil. dengan berhati hatinya, aku melepaskan tangan pemuda itu dari memelukku. aku segera berlari ke kamar kecil. jelas untuk kencing dan membasuh wajahku. sekembalinya dari kamar kecil, aku melihat pemuda itu telah terbangun dan duduk diranjang dgn kaki dijuntaikan.



"selamat pagi." sapaku sambil memberikan senyum simpul.



"pagi juga. aku dimana?"



"tenang, kau sekarang berada dirumahku. kemarin soreh pas hujan kau tiba tiba pingsan. aku ga tau dimana rumahmu. sebabnya aku membawamu kerumahku."



"terima kasih. aku berhutang budi padamu."



"sama sama. bukannya sesama manusia harus saling tolong?. btw aku belum tahu namamu. kenalin, aku Akhril."



ia melepaskan tangannya dari memijit mijit kepalanya lalu membalas uluran tanganku hingga menciptakan jabatan tangan.
baca selanjutnya=>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar