<=baca dari awal
bukankah manusia berhak mendapatkan kebahagian? dan bukankah cinta itu universal? soal dosa, apa kalian yang menanggung dosaku? tidak!! aku berhak mendapat kebahagian, aku berhak mendapatkan cinta. dosaku adalah tanggunganku. bukan tanggungan kalian yang jijik padaku. benar bukan?
aku jatuh cinta pada kak Akhril sejak pertama melihatnya di teras kios pada waktu hujan. apa aku salah??
kalian pasti bertanya tanya. mengapa aku mudah sekali pingsan. sebenarnya aku punya penyakit berbahaya. jangan katakan sama kedua sahabatku ya? mereka akan sedih. biarlah aku menanggungnya sendiri.
sebenarnya ini adalah penyakit turunan dari ayahku. KANGKER PARU PARU!! kangkerku ini udah mulai memasuki stadium 3. kangker ini menyusahkanku untuk beraktivitas. sedikit aja aku bisa pingsan. seperti sekarang ini. mungkin nyawaku tak akan panjang lagi. tapi aku akan menyembunyikan penyakit ini dari teman temanku. soal kedua orang tuaku tak usah dikhawatirkan lagi. mereka yang pertama kali mengetahuinya setelah dokter saat aku disuruh periksa penyakit dirumah sakit. awalnya hanya sakit biasa disekitar dada, tapi setelah diteliti oleh dokter, ternyata itu adalah sebuah kangker. turunan genetika dari ayahku. ayahku?? untungnya ia berhasil hidup setelah menjalani kemotherapy dan pengangkatan kangker. sekarang ia sedang bekerja dikantornya. aku tak tau nama perusahaannya. yang jelas bahasa tulisannya asing ditelingaku. mungkin itu bahasa Jerman dan pastinya perusahaan investor asing.
"untungnya kau telah sadar."
aku tersadar dari lamunanku oleh perkataan seseorang. orang itu adalah Nita. ia tersenyum kearahku. aku membalasnya.
"kami tadi mengkhawatirkanmu." lanjutnya.
"Akhril, Fakhrul udah sadar." katanya lagi kepada Akhril sambil menepuk pundaknya Akhril. tak perlu lama, Akril tersadar. ia kelihatan terkejut dan gembira.
"Syukrlah. kau udah sadar."
ia lalu menyentuh keningku dgn punggung tangan kanannya.
"panasnya juga tlah hilang." lanjutnya.
"kau udah tak apa apa?" tanyanya lagi.
"aku tak apa apa kok. tinggal pening aja."
"kalau begitu kau perlu istirahat lagi." "tak apa apa kok. aku udah terasa baikan. lagian ini hanya pening biasa." yakinku padanya. ia akhirnya mengangguk walaupun ada keraguan dari wajahnya. tapi ia tetap membangunkanku berdiri secara perlahan. "kalau ga mampu mending istirahat aja." timpal kak Nita. aku tersenyum. mereka sangat perhatian padaku. "aku bisa kok. yuk kita kekelas. pasti pelajarannya udah sedaritadi dimulai." mereka berdua akhirnya mengangguk serempak. kemudian kami segera pergi kekelas meninggalkan beberapa orang yang masih tak sadarkan diri
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar